Juli 09, 2015

Mudik Gairahkan Ekonomi Lokal


Dimuat Koran Jakarta, Edisi Kamis 09 Juli 2015
Kementerian Perhubungan (2015) menyebut, pemudik tahun ini sekitar 20 juta yang menggunakan trasportasi umum. Kemudian 1,6 juga orang naik mobil pribadi, dan 2 juta bersepeda motor.
Meski teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berkembang begitu cepat. Tradisi mudik seakan tak tergantikan TIK. Logika sederhana, dari pada capekcapek mudik, untuk sekadar ”kangenkangenan” dengan orangtua atau sanak saudara di kampung, orang bisa menggunakan teknologi TV Conference atau handphone fasilitas 3G atau e-mail. Ucapan Idul Fitri juga bisa lewat short massage system (SMS), Facebook, blog, Twitter, e-mail, atau kartu lebaran konvensional.
Nyatanya, kebanyakan orang lebih puas mudik. Dengan kata lain, mereka lebih senang bertemu langsung sanak famili. Ada perasaan batin/psikologis sreg bila bisa meminta maaf secara langsung.
Berbagai keistimewaan tradisi mudik, sudah banyak dikaji para peneliti dan pakar kebudayaan dari sisi psikologis, sosial budaya, ekonomi, hingga pembangunan desa. Dari aspek psikologis misalnya, mudik dipercaya mampu menjadi terapi ampuh rindu batin.
Kedatangan pemudik menjadi pelecut gairah ekonomi lokal. Lihatlah, sepanjang jalan menuju Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta biasa berjajar para pedagang musiman menyambut para pemudik. Tadinya, kawasan itu sepi dan gersang. Begitu musim mudik, kawasan sepanjang jalan Yogyakarta- Wonosari menjadi ramai dengan aneka transaksi jual beli buah-buahan, kerajinan, hingga paket wisata.
Pemasukan untuk warga lokal pun meningkat. Pemudik secara tidak langsung telah berbagi kebahagiaan kepada penduduk setempat. Geliat ekonomi juga terasa hingga ke desa-desa asal pemudik. Semua bergairah karena mudik!
Sektor ekonomi kreatif pun ikut terdampak positif mudik. Budi Rajab (2015:7) menyebut ekonomi kreatif sebagai kegiatan masyarakat entah perkotaan maupun perdesaan yang berbasis pada gagasan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Ini lantas melahirkan produk baru berupa barang-barang serta metode kerja terintegrasi dengan pasar.
Produk ekonomi kreatif bisa berupa ekspresi karya tradisional meliputi aneka kerajinan-kerajinan artistik. Secara lebih luas bisa berupa festival atau perayaan- perayaan. Tapi bisa juga memanfaatkan situs-situs budaya sepereti arkeologi, museum, perpustakaan dan sebagainya.
Produk ekonomi kreatif berupa karya seni, misalnya, lukisan, ukiran, patung, fotografi, dan barang antik. Produk ekonomi kreatif berupa kreasi fungsional seperti desain interior, grafis, aneka perhiasan, dan mainan. Bisa juga berupa jasa kreatif yang menyangkut arsitektural, periklanan, turisme, aneka kuliner, serta penelitian dan pengembangan kreatif.
Aneka galeri yang menjual produk ekonomi kreatif sudah pasti dibanjiri pemudik. Saat meninggalkan kampung, mereka ingin membawa sesuatu yang menjadi identitas asal bisa topeng, akik, pakaian, cincin, sampai karya fotografi objek wisata di suatu tempat. Selain untuk pribadi, mereka juga akan membeli produk ekonomi kreatif lokal sebagai oleh-oleh untuk tetangga dan teman kantor.
Jika disiasati dengan tepat para stakeholders dan mereka yang bergerak pada sektor ekonomi kreatif, tradisi mudik bisa menjadi berkah luar biasa. Bagaimana tidak, para pemudik tidak hanya membawa aneka pengetahuan dari tanah rantau, tetapi juga modal uang yang tidak sedikit.
Contoh lagi Kabupaten Gunung Kidul. Menurut data pemerintah daerah Gunung Kidul, pada tahun 2014 lalu lebih dari dua juta orang mudik ke wilayah itu. Andaikata para pemudik membelanjakan uang minimal 500.000 rupiah, maka akan ada pemasukan 100 miliar rupiah. Ini menjadi sebuah pemasukan dan keuntungan yang tidak sedikit jumlahnya.
Belum lagi dana yang masuk melalui rekening antarbank, western union, restribusi dinas pariwisata, parkir, pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai, dan perizinan.
Hal serupa bisa terjadi juga di daerah- daerah kantong pemudik lain seperti Kabupaten Kebumen, Purworejo, Bantul, Sleman, Kulon Progo, Wonogiri, Klaten dan sebagainya. Pendek kata, mudik membuat wilayah-wilayah ramai, semarak, bergairah dan mengalir modal raksasa.

Modal Pembangunan
Konsumerisme dan gaya hidup hedonis sedikit banyak akan berpengaruh pada penduduk lokal. Ini tentu juga perlu diantisipasi secara bijak. Namun, yang terpenting modal besar dari pemudik itu, mestinya digunakan secara bijak oleh pemerinah setempat. Artinya, modal dari para pemudik bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pembangunan atau penciptaan lapangan pekerjaan.
Misalnya pendirian home industry, pembangunan pusat kerajinan lokal, dan perbaikan infastruktur transportasi seperti jalan desa. Diharapkan ketika tradisi mudik berakhir, kegairahan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat terus berlanjut. Dengan adanya lapangan pekerjaan itu, paling tidak urbanisasi bisa ditekan.

Disisihkan
Sebagian anggaran juga perlu disisihkan untuk kegiatan pendidikan dan pelatihan keterampilan agar masyarakat lokal memiliki kualitas sumber daya manusia yang memadai. Sementara, pelatihan keterampilan bertujuan membekali masyarakat lokal dengan life skills yang bisa langsung diaplikasikan guna mendukung pembangunan desa.
Pendek kata, pelatihan keterampilan dan peningkatan kualitas SDM amat mendukung agenda besar pemerintah untuk merevitalisasi desa. Hanya, para stakeholder lokal harus peka dan konsen pada pembangunan masyarakat. Artinya, ketika modal raksasa terkumpul harus segera dibuat perencanaan pembangunan. Maka, ketika tradisi mudik usai, kegiatan pembangunan dimulai.
Sayang tidak semua stakeholders pemerintah memiliki komitmen itu sehingga modal besar yang masuk tidak diarahkan pada pembangunan, tetapi malah untuk menambah insentif dan tunjangan hari raya para pegawai pemerintah desa.
Meski tradisi mudik memiliki banyak kelebihan, ada beberapa sisi negatif yang ikut terbawa seperti ajang pamer atau keberhasilan. Mereka juga membawa budaya rantau ke desa.
Sebagian memang positif, tetapi pada umumnya kurang cocok dengan budaya lokal seperti budaya individualistik. Ini, turut mempengaruhi hubungan sosial masyarakat desa. Dari aspek penampilan, budaya kota yang serba berlebih- lebihan dan terlalu ”narsis”, lambat-laun ditiru penduduk lokal yang memancing urbanisasi. Logika sederhananya, ketika sebagian pemuda-pemudi mengikuti budaya kota para perantau, sementara kondisi desa tidak mendukung, mereka bakal ikut merantau.
Akhirnya, tradisi mudik yang membawa modal ekonomi besar, mesti dimanfaatkan untuk mendorong kegairahan dan kemajuan daerah. Jangan sampai modal tersebut sia-sia tanpa ada kontribusi baik pada pengembangan ekonomi kreatif maupun pembangunan lokal.
Sementara dampak negatif tradisi mudik, perlu disiasati dan diantisipasi secara bijak agar tidak muncul kaum urban baru yang akan menambah beban kota-kota besar. 
Oleh Agus Wibowo, Penulis dosen Fakultas Ekonomi UNJ

0 komentar:

Posting Komentar