Juli 12, 2015

Mudik dan Kisah Kaum Urban

Tradisi kultural mudik yang diikuti arus balik pada momentum Idul Fitri 1436 Hijriyah akan segera tiba. Ritual tahunan itu dibarengi dengan urbanisasi, di mana sebentar lagi kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya akan menuai dampaknya. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS, 2014), pasca lebaran lebih dari satu juta kaum urban berebut pekerjaan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya.
Menelisik kisah kaum urban—pelaku urbanisasi—sarat kisah menarik. Beberapa teks sastra klasik maupun kontemporer bahkan merekam kisah haru-biru urbanisasi itu. Bagi yang sukses, urbanisasi menjadi pintu meraih kemuliaan. Namun bagi yang gagal, urbanisasi menjadi beban berat yang akan dibawa mati. Bagaimana tidak, sejak keluar dari desa kaum urban sudah bertekad, “hidup mulia atau mati sengsara di perantauan!”
Sejarah urbanisasi bisa dibilang lebih tua dari negeri ini. Urbanisasi sudah berlangsung sejak terbentuknya konsep kota. Lebih jauh lagi, sejak berdirinya keraton-keraton di Indonesia. Sejak era keraton, kata Heri Priyatmoko (2015), orang desa sudah mulai melakukan urbanisasi. Masyarakat desa sekolah, kemudian menjadi pegawai/ambtenar,  abdi dalem atau pegawai keraton. Fase ini disebut Heri Priyatmoko sebagai urbanisasi tradisional. 
Urbanisasi tradisional juga terjadi ketika raja memiliki proyek besar membangun pusat-pusat kewibawaan. Situs-situs atau bangunan masa lalu, bisa mengisahkan bahwa para raja turut berperan dalam proses urbanisasi. Seperti pembangunan candi Borobudur di Jawa Tengah, situs Trowulan di Mojokerto, Prasasti Tugu (Abad ke-5 Masehi), dan sebagainya.
Pada masa kerajaan Islam, urbanisasi juga menemukan momentum. Masyarakat pedalaman banyak merantau ke pusat-pusat kerajaan Islam di kawasan pesisir. Kota-kota seperti Gresik, Tuban, Demak, Jayakarta dan sebagainya menjadi incaran penduduk pedalaman. Perdagangan dan perniagaan yang menggerakkan denyut nadi kerajaan-kerajaan Islam pesisir, memberikan lapangan kerja kaum urban tradisional.
Masa kolonial Belanda, urbanisasi lebih banyak dimobilisasi ke kota-kota kekuasaan mereka seperti Batavia (Jakarta). Kaum urban itu dipekerjakan di perkebunan-perkebunan, pelabuhan, benteng, jalan, pemukiman dan sarana-prasarana untuk kepentingan kolonial Belanda. Kebijakan “Tanam Paksa” merupakan satu dari sekian lembaran hitam kaum urban di masa kolonial Belanda.
Masa Orde Baru, ledakan besar urbanisasi terjadi. Yaitu sejak digulirkannya beberapa kebijakan “gegabah” Orba: Pertama, adanya kebijakan ekonomi makro (1967-1980), di mana kota sebagai pusat ekonomi. Kedua, kombinasi antara kebijaksanaan substitusi impor dan investasi asing di sektor perpabrikan (manufacturing), yang justru memicu polarisasi pembangunan terpusat pada metropolitan Jakarta. Ketiga, penyebaran yang cepat dari proses mekanisasi sektor pertanian pada awal dasawarsa 1980-an, yang menyebabkan kaum muda dan para sarjana, enggan menggeluti dunia pertanian atau kembali ke daerah asal).

Mengatasi Urbanisasi?
Mengurai sebab urbanisasi memang tak habis-habisnya. Banyak aspek ikut ambil peran; ekonomi, kependudukan, pertanahan, sosial, politik dan budaya. Namun, beberapa sosiolog dan ahli ekonomi seperti Wilkinson (1973); L. Wirth (1983); Gilbert & Gigler (tt); Laquian (1977) dan Shaw (1975), senada bahwa mempertahankan hidup itu motif utama urbanisasi. Mempertahankan hidup ini tentu saja dalam konteks ekonomi, sosial, politik, maupun budaya.
Lowder (1978) dengan metodologi model ekonometri secara kritis sampai pada kesimpulan bahwa kesenjangan menyolok desa versus kota menjadi pemicu urbanisasi. Ketika lapangan pekerjaan di desa tidak tersedia, sementara tuntutan ekonomi keluarga harus dicukupi, maka merantau adalah sebuah keharusan. Urbanisasi kata Stark (1991), sebenarnya sebuah proses yang wajar serta hak setiap warga negara untuk merubah hidup dan meningkatkan kesejahteraan.
Di bandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia, Eropa bahkan Amerika, Indonesia memiliki jembatan “unik” yang mempercepat proses urbanisasi. Jembatan itu adalah tradisi mudik dan balik! Para sosiolog dan ekonom sama-sama sepakat bahwa tradisi mudik terutama arus balik itu menyumbang kaum besar terbesar—jika dibandingkan dengan momentum-momentum lain seperti tradisi nyadran, liburan natal dan akhir tahun, serta tahun ajaran baru.
Persoalan urbanisasi harus segera diselesaikan dengan bijak, agar tidak menimbulkan problem sosial baru. Salah satunya adalah pemisahan kawasan. Belajar dari Amerika Serikat, urbanisasi disiasati dengan memisahkan pusat pemerintahan di Washington DC, dan pusat ekonomi di New York. Maka, hanya New York yang diserbu urbanisasi sementara Washington DC tetap stabil.
Sebagaimana Amerika Serikat, Vietnam juga punya strategi cerdas dengan pemisahan kawasan. Meskipun di Vietnam pembangunan pada bidang perdagangan, industri, dan properti, gencar dilakukan, terutama di Ho Chi Minh, pemerintah mereka tetap melakukan komitmen tinggi terhadap bidang pertanian. Artinya, ada jaminan lahan pertanian tidak akan beralih fungsi (misalnya berubah menjadi perumahan, realestat, dll). Hasilnya, petani merasa tenang dan bisa konsentrasi bertani tanpa harus menjadi urban di kota.
Jika belajar dari Amerika dan Vietnam, mestinya Jakarta hanya berperan sebagai pusat pemerintahan saja, sementara pusat ekonomi dan pendidikan harus diperbanyak di kota-kota penyangga (satelit). Sedangkan desa tetap diprioritaskan sebagai kawasan pertanian dan perkebunan saja 
Adanya Undang-undang Desa (UU No 6 Tahun 2014) dalam jangka panjang diharapkan meminimalisir urbanisasi. Stakeholder desa mengidentifikasi dan merumuskan apa saja yang bisa diberdayakan di wilayahnya. Sementara pemerintah pusat memberikan stimulus dana dan pendampingan dengan muara menyediakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi, serta menciptakan   kesejahteraan masyarakat. Jika dikelola dengan baik, efektif dan efisien, dana desa sebagaimana yang diamanatkan UU No 6 Tahun 2014, bisa menjadi setitik harapan meminimalisir urbanisasi. Masyarakat bawah pun tidak akan terlunta-lunta lagi dan dituduh biang masalah lantaran melakukan urbanisasi. Semoga. Oleh Agus Wibowo, Pelaku Mudik dan Pengajar di Universitas Negeri Jakarta.
Dipublikasikan oleh Harian Radar Surabaya Minggu, 12 Juli 2015: http://radarsby.com/radarsurabaya%20pdf/7.pdf

0 komentar:

Posting Komentar