Juni 25, 2015

Investasi Pendidikan dan Bonus Demografi

Oleh Agus Wibowo
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta
Media Indonesia, Edisi 18 Mei 2015

DATA Badan Kependudukan PBB (UNFPA, 2015) termutakhir menyebut Indonesia sebagai negara yang akan memanen puncak bonus demografi pada kurun waktu 2028-2035. Saat itu, tersedia lebih dari 65 juta tenaga kerja muda produktif usia 15-29 tahun. Jumlah itu bahkan terbesar sejak Indonesia merdeka. Bonus demografi tersebut merupakan jembatan emas bagi Indonesia untuk tinggal landas menjadi negara maju. Namun, peluang emas itu akan hilang dan berlalu begitu saja jika pemerintah tidak sigap memperbaiki kualitas SDM.

Bonus demografi akan menjadi berkah jika investasi pendidikan berhasil melahirkan penduduk usia produktif yang forward looking; terampil, kompeten, berkualitas, dan mampu menyiasati peluang dengan baik. Sebaliknya, bonus demografi akan menjadi musibah bagi sebuah negara jika kualitas SDM-nya rendah, minus keterampilan, dan tidak mampu menyiasati peluang yang ada (Mason, 2005).

Investasi pendidikan
Hasil penelitian Babatunde Osotimehin (2015) dan laporan UNFPA (2015) sampai pada kesimpulan akan pentingnya investasi negara atas pendidikan. Menurut UNFPA, keberhasilan meraup bonus demografi akan bergantung pada investasi yang dilakukan negara untuk kaum muda sehingga potensi mereka dapat dimaksimalkan. Sementara itu, menurut Babatunde Osotimehin, investasi pendidikan harus disiapkan khusus.
Semua anak, terutama perempuan, harus mengenyam bangku sekolah. Kehadiran anak perempuan di sekolah, selain meningkatkan kualitas mereka, juga mencegah pernikahan dini dan mematangkan usia perkawinan.

Berdasarkan temuan itu, kebijakan investasi pendidikan guna meningkatkan kualitas SDM kita tidak boleh ditunda lagi. Apalagi 2028-2035 atau masa memanen bonus demografi sudah semakin dekat. Apa jadinya jika pada kurun waktu itu sebagian besar pemuda kita, yang mestinya produktif membangun, justru menjadi SDM tidak siap pakai dan minus keterampilan?

Maka, sudah semestinya bonus demografi tidak sekadar dimaknai sebagai berkah, tetapi juga tantangan untuk meningkatkan kualitas dunia pendidikan. Kita perlu belajar dari Thailand, Singapura, dan Korea Selatan yang berhasil memanen bonus demografi. Ketiga negara tersebut menginvestasikan pendidikan guna meraup keuntungan bonus demografi. Korea Selatan, misalnya, selain mengubah manajemen di bidang ekonomi, juga mempergunakan strategi capital intelectual. Ketika sedang berkembang, "Negeri Ginseng" ini mengirim pemuda sebanyak-banyaknya untuk belajar di luar negeri. Hasilnya, tenaga intelek yang melimpah menjadi penggerak utama nadi perekonomian Korea Selatan. Bonus demografi di Korea Selatan mampu meningkatkan pertumbuhan negara itu dari 7,3% menjadi 13,2%.

Hal yang sama juga dilakukan di Thailand dan Singapura. Investasi pendidikan dilakukan secara besar-besaran, baik dengan menyediakan pendidikan berkualitas dan bermutu maupun memberikan beasiswa bagi pemuda-pemudanya ke luar negeri. Setelah lulus, kaum intelektual itu diberi tempat untuk menggerakkan perekonomian kedua negara tersebut. Sebagaimana Korea Selatan, bonus demografi meningkatkan pertumbuhan Thailand dari 6,6% menjadi 15,5%. Sementara itu, peningkatan pertumbuhan Singapura dari 8,2% menjadi 13,6%.
Kreatif dan inovatif.

Dalam menyambut era bonus demografi, sekolah-sekolah kita sudah saatnya berbenah. Sejak dini, semestinya siswa sudah dididik agar memiliki mental kreatif dan inovatif. Mereka inilah yang nantinya akan mampu menumbuhkembangkan sektor ekonomi yang disebut John Howkins (2001) sebagai ekonomi kreatif. Sebagai konsep baru, tulis Howkins, ekonomi kreatif tersebut mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari SDM sebagai faktor produksi utama. Singkatnya, ekonomi kreatif itu hanya bisa digerakkan dan ditumbuhkan SDM yang kreatif dan inovatif pula.

Pemerintah kita sudah menyadari itu. Buktinya, di masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sektor-sektor ekonomi kreatif yang terbukti ampuh bertahan dari gempuran krisis finansial global mendapat dukungan dan perhatian penuh. Itu jalan menuju kemakmuran di era baru, demikian kata para ekonom. Apalagi dengan tersedianya bahan baku yang melimpah di negeri ini; tidak hanya sumber daya alam (SDA), tetapi juga sosial, budaya, dan sebagainya. Berkah SDA yang melimpah tentu saja bisa tergarap efektif jika SDM kita memiliki mental ekonomi kreatif sebagaimana telah diuraikan. Singkatnya, ekonomi kreatif dapat berkontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran, terutama bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Para ahli pendidikan sepakat nilai-nilai ekonomi kreatif seperti inovatif, kreatif, kewirausahaan, pantang menyerah, cerdas menyikapi peluang, dan sebagainya bisa diinternalisasikan kepada anak didik di bangku sekolah. Internalisasi tersebut tidak menjadi satu mata pelajaran. Akan tetapi, nilai-nilai itu diajarkan kepada siswa melalui berbagai macam kegiatan baik yang berhubungan dengan materi pembelajaran maupun tidak. Misalnya, pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam, para siswa tak hanya diajari materi. Mereka juga harus bereksperimen (Agus Wibowo, 2015).

Ekonomi kreatif tidak akan tumbuh efektif tanpa dukungan pemerintah. Maka pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu mengarusutamakan ekonomi kreatif menjadi salah satu bagian penting dalam kerangka pendidikan karakter. Selama ini, nilai-nilai ekonomi kreatif dan kewirausahaan lebih banyak diinternalisasikan di sekolah-sekolah kejuruan (SMK). Sementara itu, di sekolah-sekolah lain, penekanannya lebih dominan kepada mata pelajaran yang sifatnya kognitif. Mestinya, baik sekolah umum maupun sekolah kejuruan mendapat porsi sama dalam hal internalisasi nilai-nilai ekonomi kreatif.

Dengan mengulang pendapat Mason, bonus demografi akan menjadi berkah jika negara tanggap dan sigap menginvestasikan pendidikan--terutama pendidikan ekonomi kreatif--bagi generasi mudanya. Mereka, dengan mental ekonomi kreatif, akan menggarap bonus demografi secara maksimal. Mereka juga yang akan menggerakkan denyut nadi perekonomian bangsa ini menuju pertumbuhan yang signifikan. Sebaliknya, ketika pemerintah tidak sigap mempersiapkan generasi mudanya, bonus demografi akan menjadi musibah. Ledakan penduduk lanjut usia dan tingginya angka pengangguran akan menimbulkan masalah sosial, keamanan, dan kesejahteraan. Ini mestinya menjadi pemikiran utama pemerintah beserta para pemangku kepentingan pendidikan kita. Semoga.

0 komentar:

Posting Komentar