.showpageArea a { text-decoration:underline; } .showpageNum a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageNum a:hover { border: 1px solid #cccccc; background-color:#cccccc; } .showpagePoint { color:#333; text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; background: #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageOf { text-decoration:none; padding:3px; margin: 0 3px 0 0; } .showpage a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; padding:3px; } .showpage a:hover { text-decoration:none; } .showpageNum a:link,.showpage a:link { text-decoration:none; color:#333333; }

Maret 31, 2010

Urgensi Pendidikan Karakter

Oleh Agus Wibowo
Dimuat Harian Pelita
Edisi 31 Maret 2010
Kolom Opini

Praktik plagiarisme, pemalsuan ijazah, perjokian, tawuran antar pelajar dan berbagai kasus yang mencoreng dunia pendidikan akhir-akhir ini, menimbulkan keprihatinan masyarakat. Bagaimana tidak, dunia pendidikan selama ini diharapkan menjadi satu-satunya tumpuan akhir penjaga nilai-nilai kejujuran dan susila. Tetapi kenyataanya, virus ketidakjujuran dan budaya menerabas itu sudah menyerang dunia pendidikan. Jika demikian, ke mana lagi masyarakat mencari tumpuan ketika mengalami krisis moralitas dan kejujuran? Langkah apa yang harus dilakukan stakeholder pendidikan, guna mengentaskan krisis moralitas dan ketidakjujuran dalam pendidikan?

Maraknya praktik plagiarisme dan budaya ketidakjujuran dalam pendidikan, kata Mendiknas Muhammad Nuh (2010), menandakan mulai lunturnya nilai-nilai susial dan moralitas. Solusi mengatasinya, lanjut Muhammad Nuh, dunia pendidikan harus melakukan revitalisasi pendidikan karakter, mulai dari tingkat dasar (SD-SLTA) hingga universitas/perguruan tinggi (PT).

Menurut Doni Koesuma (2009), pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang lantaran diterjang gelombang positivisme ala Comte.Pedagog Jerman, FW Foerstar (1869-1966), adalah orang yang mula-mula menekankan pentingnya pendidikan karakter. Bagi Foerster, karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah.

Sebagai aspek terpenting dalam pembentukan karakter, pendidikan harus mampu mendorong anak didik melakukan proses pendakian terjal (the ascent of man). Itu karena dalam diri anak didik terdapat dua dorongan esensial; yaitu dorongan mempertahankan diri dalam lingkungan eksternal yang ditandai dengan perubahan cepat, serta dorongan mengembangkan diri atau dorongan untuk belajar terus guna mencapai cita-cita tertentu. Ketika anak didik telah mampu menyeimbangkan dua dorongan esensial itu, maka ia akan menjadi pribadi dengan karakter yang matang. Dan dari kematangan karakter inilah, kualitas seorang pribadi diukur.

Tidak Optimal
Di Indonesia, pendidikan karakter sebenarnya sudah lama diterapkan dalam proses pembelajaran. Bahkan dalam program kerja seratus hari pertama, Depdiknas menginstruksikan kepada sekolah-sekolah untuk menanamkan beberapa karakter pembangun mental (character buliding) bagi anak didiknya. Beberapa karakter itu diantaranya: kreatif, inovatif, problem solver, berpikir Kritis, dan entrepreneurship atau disingkat KIPBE.

Sayangnya, implementasi pendidikan karakter itu tidak bisa berjalan optimal lantaran beberapa hal: Pertama, kurang terampilnya para guru menyelipkan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran.
Kedua, sekolah terlalu fokus mengejar target-target akademik khususnya target lulus ujian nasional (UN). Karena sekolah masih fokus pada aspek-aspek kognitif atau akademik, baik secara nasional maupun lokal di satuan pendidikan, maka aspek soft skils atau nonakademik sebagai unsur utama pendidikan karakter justeru diabaikan.
Sebelum dunia pendidikan mengalami krisis moralitas yang akut, pihak sekolah beserta stakeholder pendidikan harus melakukan refleksi; besarnya ongkos moralitas yang harus dibayar akibat melalaikan pendidikan karakter.

Keteladanan
Sudah saatnya pendidikan karakter diaplikasikan kembali dalam pendidikan kita. Jika semula pendidikan karakter hanya menjadi anak tiri, maka kini harus dijadikan point utama. Artinya, pendidikan karakter tidak lagi terpisah dengan bentuk pendidikan yang sifatnya kognitif atau akademik.

Formatnya, jika di tingkat dasar pendidikan karakter ini tidak harus menjadi mata pelajaran sendiri. Tetapi, cukup menjadi semacam kurikulum tersembunyi (hiden kurikulum), yang diselipkan di berbagai mata pelajaran.

Misalnya dalam pelajaran biologi, siswa diajak langsung menanam tumbuh-tumbuhan, diberi pemahaman tentang manfaatnya, dikaitkan dengan kerusakan lingkungan dan sebagainya. Siswa juga harus diberi pengertian bahwa pelajaran biologi itu tidak bisa berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dengan hal-hal lain di luar disiplin ilmu tersebut.

Pada mata pelajaran kesenian pun bisa diterapkan pendidikan karakter. Sebutlah contohnya, siswa diajak mengenal dan mempraktikkan beragam peninggalan seni budaya yang menjadi muatan-muatan lokal, falsafah budaya, dan manfaatnya.

Meski hanya diselipkan, pendidikan karakter tetap harus dibarengi dengan keteladanan dan pembiasaan. Misalnya pengawas menjadi teladan bagi kepala sekolah yang diawasinya, kepala sekolah menjadi teladan bagi guru dan karyawan, sementara guru menjadi teladan bagi siswanya. Keteladanan ini akan berkontribusi positif bagi proses perkembangan psikologis siswa, khususnya dalam pembiasaan dan pembentukan prilaku.

Dalam pandangan Irwanto (2002), karakteristik psikologis siswa usia SD-SMA adalah masa-masa dominan dalam pembentukan karakter dan kepribadian. Fase ini mulai dari periode kanak-kanak akhir (late childhood) , hingga periode dewasa awal (early adulthood).

Pada fase ini, anak memiliki kecenderungan untuk mengikuti atau meniru tata-nilai dan prilaku di sekitarnya, pengambilan pola prilaku dan nilai-nilai baru, serta tumbuhnya idialisme untuk pemantapan identitas diri.
Jika pada fase itu dilakukan proses penanaman nilai-nilai moralitas yang terangkum dalam pendidikan karakter secara sempurna, maka akan menjadi pondasi dasar sekaligus warna kepribadian siswa ketika dewasa kelak.

Adapun model pendidikan karakter di PT harus lebih kompleks, integral dan tidak sepotong-sepotong. Artinya selain menyelipkan dalam tiap mata kuliah, pendidikan karakter juga harus dibarengi dengan membangun tradisi akademik yang jujur dan bersih.

PT yang memiliki university culture, akan tercermin dalam nilai akademik yang sangat tinggi, termasuk kejujuran, kecermatan, dan kehati-hatian dalam membuat karya ilmiah. Sebaliknya PT yang tidak memiliki university culture, akan tercermin dengan banyaknya kasus plagiarisme, rendahnya penghargaan terhadap sebuah karya dan rendahnya integritas mahasiswa.

Akhirnya, krisis moralitas dalam pendidikan harus segera dihentikan. Pendidikan harus kembali menjadi institusi yang memegang teguh nilai-nilai kejujuran dan moralitas.

Caranya, dengan mengoptimalkan kembali pendidikan karakter, yang dibarengi dengan keteladanan baik dari pengawas, kepala sekolah, guru dan karyawan. Keteladanan itulah yang akan dicontoh dan diikuti oleh anak didik. Semoga. (Agus Wibowo adalah mahasiswa program pasca sarjana Universitas Negeri Yogyakarta).

3 komentar:

Fahmi mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Mawardi mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
wardi mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Poskan Komentar